0,05), yang mengindikasikan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan tentang anemia dan kebiasaan konsumsi makanan sumber zat besi. Kesimpulan: Bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan mengenai anemia dengan kebiasaan konsumsi makanan yang mengandung zat besi pada remaja putri di MAN 5 Aceh Besar. Saran: Disarankan agar pihak sekolah lebih proaktif dalam menyediakan alternatif jajanan sehat di lingkungan sekolah, khususnya yang berbasis bahan pangan tinggi zat besi seperti hati ayam, telur, tahu, tempe, serta sayuran berdaun hijau. Kata Kunci: Anemia, Remaja Putri, Pengetahuan, Kebiasaan Konsumsi Zat Besi "" />
Text
HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG ANEMIA DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN SUMBER ZAT BESI (Fe) PADA REMAJA PUTRI DI MAN 5 ACEH BESAR
"HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG ANEMIA DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN SUMBER
ZAT BESI (Fe) PADA REMAJA PUTRI
DI MAN 5 ACEH BESAR
Sahiqa Meutia Zalfa , Nunung Sri Mulyani
ABSTRAK
Latar Belakang: Berdasarkan temuan suatu penelitian, prevalensi anemia tercatat mencapai 43%, dengan kelompok anak-anak serta perempuan usia subur (WUS) menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap kondisi tersebut. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 mengungkap bahwa prevalensi anemia pada remaja putri berusia 15–24 tahun berada pada angka 32%. Masa pubertas merupakan fase yang rawan bagi remaja putri mengalami anemia, mengingat adanya kehilangan darah secara periodik akibat menstruasi yang menyebabkan penurunan kadar zat besi dalam tubuh. Selain itu, perilaku konsumsi yang kurang memperhatikan kandungan zat besi turut memperparah risiko tersebut. Sebagai respons, pemerintah telah menggagas program peningkatan asupan zat besi melalui konsumsi pangan bergizi sebagai langkah preventif dalam menekan angka kejadian anemia pada kelompok ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi korelasi antara tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kebiasaan konsumsi makanan yang kaya akan zat besi (Fe).
Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui Proportionate Stratified Random Sampling, melibatkan 37 responden. Instrumen pengumpulan data meliputi kuesioner dan formulir Food Frequency Questionnaire (FFQ). Data kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (CI 95%).
Hasil: Analisis menunjukkan bahwa 19 siswi (51,4%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai anemia, sedangkan 18 siswi (48,6%) berada pada kategori pengetahuan yang kurang. Dalam hal kebiasaan konsumsi makanan sumber zat besi, pola yang sama juga terlihat: 19 siswi (51,4%) memiliki kebiasaan baik dan 18 siswi (48,6%) kurang baik. Uji statistik menghasilkan nilai p = 0,140 (p > 0,05), yang mengindikasikan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan tentang anemia dan kebiasaan konsumsi makanan sumber zat besi.
Kesimpulan: Bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan mengenai anemia dengan kebiasaan konsumsi makanan yang mengandung zat besi pada remaja putri di MAN 5 Aceh Besar.
Saran: Disarankan agar pihak sekolah lebih proaktif dalam menyediakan alternatif jajanan sehat di lingkungan sekolah, khususnya yang berbasis bahan pangan tinggi zat besi seperti hati ayam, telur, tahu, tempe, serta sayuran berdaun hijau.
Kata Kunci: Anemia, Remaja Putri, Pengetahuan, Kebiasaan Konsumsi Zat Besi
"
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain