Text
PENGEMBANGAN BISKUIT FUNGSIONAL DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) DAN TEPUNG IKAN LELE (CLARIAS SP) SEBAGAI MAKANAN TAMBAHAN UNTUK ANAK BALITA
PENGEMBANGAN BISKUIT FUNGSIONAL DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) DAN TEPUNG IKAN LELE (CLARIAS SP) SEBAGAI MAKANAN TAMBAHAN UNTUK ANAK BALITA
Ayuni Rahmadani1, Dr. Aripin Ahmad
ABSTRAK
Latar Belakang: Asupan energi zat gizi kurang dapat mengakibatkan ganggun tumbuh kembang,penyakit infeksi dan kognitif anak. Pemberian makanan tambahan (PMT) berperan penting untuk memenuhi kebutuhan gizi. Pemanfaatan pangan lokal sebagai PMT merupakan alternatif peningkatan asupan gizi anak. Daun kelor dan ikan lele merupakan salah satu pangan lokal yang mudah ditemukan namun pemanfaatan masih rendah selain itu daun kelor dan ikan lele juga mengandung zat gizi yang baik untuk mengatasi masalah gizi balita seperti sumber protein, vitamin A, vitamin C dan vitamin E sebagai anti oksidan dalam tubuh.
Tujuan : Mengembangkan biskuit tepung daun kelor dan tepung ikan lele terhadap daya terima dan analisis proksimat biskuit tepung daun kelor dan tepung ikan lele.
Metode Penelitian : Penelitian ini bersifat eksperimental dengan percobaan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan ulangan sebanyak 3 kali. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah tepung terigu 250 g, tepung maizena 25 g, telur ayam 2 butir, gula halus 250 g,susu bubuk 85 g, mentega 150 g, margarin 150 g, baking powder 5 g, garam 5 g dan air 50 ml g,tepung daun kelor untuk F1 sebanyak 10 g, F2 20 g, F3 30 g dan tepung ikan lele disetiap
perlakuan sebanyak 85 gr. Pengolahan dan analisis datadilakukan denganmengunakan ANOVA (Analisis Of Varians) dan uji lanjut Duncan.
Hasil : Penambahan tepung daun kelor dan tepung ikan lele pada biskuit berpengaruh nyata terhadap warna, rasa, tekstur dan aroma. Rata-rata yang paling disukai panelis terhadap warna,rasa, aroma dan tekstur adalah pada penambahan 20 g tepung daun kelor, sedangakan untuk aspek,rasa, aroma dan tesktur panelis tidak menyukai penambahan 30 g tepung daun kelor. Kemudian untuk uji daya terima balita dari 20 orang balita, 13 orang (65%) sangat suka dengan biskuit penambahan 20g tepung daun kelor, 5 orang (25%) suka dan 2 orang (10%) agak suka.
Kesimpulan : Biskuit dengan penambahan 10, 20, 30 g tepung daun kelor dan 85 g tepung ikan lele berpengaruh nyata terhadap warna, aroma, tekstur dan rasa.
Saran : PMT dengan bahan pangan lokal substitusi tepung daun kelor dan tepung ikan lele dapat dijadikan sebagai alternatif makanan tambahan untuk mencegah balita gizi kurang di masyarakat.
Kata kunci : Biskuit, Balita, Daun Kelor, Ikan Lele, Analisis Proksimat
1 Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Gizi Dan Dietetika, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh
2 Dosen Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh
Tidak tersedia versi lain